Mutiara Hadits
Home Pengembangan Umat Obama dan Kemandirian Umat
Obama dan Kemandirian Umat PDF Cetak E-mail

Oleh: Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, MSc.

Pelantikan Barack Hussein Obama sebagai presiden ke-44 AS telah menciptakan fenomena tersendiri bagi dunia internasional. Banyak orang menaruh harapan besar kepada pemimpin yang pernah tinggal selama empat tahun di kawasan Menteng ini. Sebagian kalangan berharap agar Obama mampu mengubah kebijakan Pemerintahan AS sebelumnya yang cenderung represif dan militeristik sehingga mengakibatkan penderitaan rakyat di berbagai negara, terutama Afghanistan dan Irak. Akibatnya, popularitas dan citra AS semakin hancur di mata dunia. Apalagi, kondisi tersebut diperparah dengan munculnya krisis ekonomi global yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir serta keberpihakan pemerintahan Bush yang tanpa batas terhadap Israel pada Perang Gaza.

Sebagaimana kita saksikan bersama, Israel telah mempertontonkan kekejaman yang sangat luar biasa dahsyat, yang menembus batas-batas kemanusiaan. Selama kurang lebih tiga minggu, ribuan rakyat Palestina, terutama wanita dan anak-anak, telah menjadi korban serangan tentara zionis dari segala penjuru, baik melalui udara, laut, maupun darat.

Tidak hanya itu, Israel pun diyakini telah menggunakan bom yang berasal dari bahan-bahan kimia yang sangat berbahaya, yang bertentangan dengan hukum internasional. Wajarlah jika kemudian jutaan orang dari berbagai penjuru dunia melakukan demonstrasi menentang agresi Israel terhadap Gaza.

Munculnya Obama, bagi para pemimpin dunia Islam, juga dianggap sebagai peluang untuk memperbaiki keadaan. Ia dianggap sebagai orang yang dapat memimpin dan mengubah dunia ke arah yang lebih baik dan lebih damai.

Mereka berharap agar Obama dapat merealisasikan komitmennya untuk lebih membuka ruang dialog dengan dunia Islam, agar tercipta kesepahaman yang lebih baik. Tidaklah mengherankan jika respons sebagian besar umat sangat luar biasa positif terhadap kemenangan Obama.

Namun demikian, muncul sejumlah pertanyaan, mampukah Obama memenuhi harapan umat? Benarkah ia adalah pemimpin yang mampu memberikan perubahan sebagaimana yang dijanjikannya? Akankah ia bersikap adil terhadap dunia Islam? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus senantiasa dikritisi selama pemerintahan Obama empat tahun ke depan. 

Sikap umat
Berkaca dari realitas sejarah yang ada selama ini, sesungguhnya AS dan negara-negara Barat selalu menerapkan standar ganda dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan umat Islam. Ketika menyerang Irak tahun 2003 lalu, misalnya, AS menggunakan jargon demokrasi sebagai salah satu dalih untuk melegitimasi serangan militernya. Saddam Hussein digambarkan sebagai seorang pemimpin diktator dan antidemokrasi sehingga harus diturunkan dari tampuk kekuasaannya. Namun, ketika Hamas menang pemilu secara demokratis tahun 2006 lalu, AS beserta konco-konconya dengan serta-merta menolak kepemimpinan Hamas meski diperoleh dengan cara yang sangat demokratis. Yang ada malah Hamas dijadikan sebagai kelompok teroris yang perlu dienyahkan dari muka bumi.

Kedua peristiwa tersebut memberikan pelajaran kepada umat Islam untuk tidak terlalu bergantung dan percaya sepenuhnya kepada kekuatan Barat (AS dan Eropa). Ketergantungan yang terlalu tinggi hanya akan membuat posisi tawar dunia Islam semakin lemah. Pengalaman krisis ekonomi satu dekade yang lalu mengajarkan bahwa sesungguhnya Barat tidak pernah memiliki keikhlasan dalam membantu negara-negara yang terkena musibah.

Justru, melalui IMF, mereka memanfaatkan momentum krisis untuk mempreteli kedaulatan ekonomi bangsa lain. Padahal, bangsa tersebut tengah menderita. Karena itu, kemandirian umat menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar kedaulatan dan harga diri umat tetap bisa terjaga. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar kemandirian ini dapat diwujudkan.

Pertama, hendaknya disadari bahwa kita diperintahkan untuk tidak mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin yang mengatur segala keperluan umat (QS Almaidah: 51). Agenda-agenda strategis keumatan dan kebangsaan tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada AS dan Eropa. Tidak pernah ada dalam sejarah, sebuah bangsa menjadi maju karena bergantung pada bangsa lain. Sebagai bangsa besar, sudah sepantasnya Indonesia tidak bergantung pada Obama. Hubungan kita dengan Obama adalah hubungan yang didasarkan atas prinsip kesetaraan dan kedaulatan, bukan hubungan satu arah yang didikte dan dikendalikan oleh AS.

Kedua, kemandirian ini dapat terwujud apabila didukung dan ditopang oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, pembangunan pendidikan menjadi sebuah keniscayaan. Salah satu sebab Barat bisa maju adalah besarnya perhatian mereka terhadap pendidikan. Padahal, beberapa abad silam, mereka masih tergolong ke dalam bangsa Barbar yang sangat terbelakang, sebagaimana digambarkan oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran yang sangat sentral dan strategis. Wajarlah jika Rasulullah SAW dalam hadisnya menegaskan pentingnya menuntut ilmu, dari mulai buaian hingga ke liang lahat.

Ketiga, kemandirian ini akan tercapai manakala ditopang oleh kekuatan ekonomi yang mapan dan tangguh. Suka tidak suka, perekonomian dunia saat ini, harus diakui, telah dikuasai oleh kaum Yahudi beserta antek-anteknya. Mereka secara sistematis mampu menguasai aset-aset ekonomi strategis. Karena itu, umat Islam harus menguasai kembali perekonomian dunia dengan mengoptimalkan instrumen-instrumen ekonomi syariah yang ada dan meninggalkan praktik-praktik ekonomi yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Produktivitas pun harus ditingkatkan. Karena itulah, Islam memerintahkan umatnya untuk meninggalkan sesuatu yang sia-sia (QS Almu'minun: 3). Bagaimanapun, di antara penyebab dominannya kekuatan ekonomi Yahudi adalah etos kerja dan produktivitas mereka yang sangat tinggi.

Keempat, kemandirian ini akan terwujud melalui kerja sama yang kuat dan solid antarkomponen umat (QS Attaubah: 71). Tanpa kerja sama dan kebersamaan yang kokoh, mustahil umat Islam dapat mengatasi masalahnya dengan baik. Karena itu, penulis berkeyakinan bahwa bukan Obama yang menjadi variabel utama penyebab maju mundurnya umat, melainkan umat Islam itu sendiri. Siapa pun presiden AS, pasti ia akan lebih mendahulukan kepentingan negaranya dibandingkan kepentingan negara-negara lain. Inilah yang harus disadari agar kita tidak terjebak pada euforia Obamania yang berlebihan. Wallahu'alam. (mys)

sumber: http://www.republika.co.id/koran/133/27914.html

 
Artikel Lainnya
RocketTheme Joomla Templates